Usai Dibintang 1 di Google, Hotel Viral di Pekalongan Ngaku Banyak yang Pesan

Rating Ambruk, Tapi Pesanan Mengalir Deras

Hotel Indonesia Syariah di Kota Pekalongan jatuh ke peringkat satu bintang setelah video cekcok dengan tamu viral di media sosial. Meskipun rating merosot, hotel Viral ini justru mencatat lonjakan reservasi. Pengelola, Ariyesti, mengaku banyak tamu sudah memesan kamar untuk tanggal 20 Agustus dan hari-hari berikutnya. Ia optimis layanan maksimal bakal memulihkan reputasi dan menggiring ulasan positif lagi.

Sebelum itu, ia menyatakan rating sempat naik dan turun berkali-kali, namun kini kondisi mulai stabil. Ariyesti menyatakan, “Kita terus berupaya memberikan layanan maksimal, sehingga tamunya puas bisa review.”

Hotel Viral di Pekalongan

Dosa Biaya Tambahan Memicu Viral

Semuanya bermula ketika tamu menolak membayar biaya tambahan saat check‑in. Padahal, ia memesan kamar melalui aplikasi Traveloka dengan harga final. Hotel berpegang pada kebijakan internal: tarif minimal Rp 150 ribu per malam. Ketika aplikasi menunjukkan tarif sekitar Rp 130 ribu, FO meminta selisih sekitar Rp 10 ribu, dan drama pun dimulai. Tamunya marah dan keesokan harinya video itu menyebar luas.

Video itu langsung viral. Tamu protes, masyarakat internet bereaksi, dan rating hotel ambruk menjadi satu bintang.

Warganet Balas dengan Rating Bombing

Dalam waktu singkat, ribuan ulasan satu bintang menyerbu Google Maps Hotel Indonesia Syariah. Lebih dari 175 ribu akun memberikan nilai buruk sambil melontarkan kritik dan ejekan. Mereka menyoroti ketidakadilan terhadap pelanggan dan menyerukan evaluasi sistem harga hotel.

Seorang warganet menulis, “Hotel Viral gak amanah,” sementara yang lain mengejek dengan santai, “Hati-hati, lagi viral ngusir tamu wkwk.”

Permintaan Maaf dan Langkah Perbaikan

Segera setelah viral, manajemen hotel mengeluarkan permintaan maaf publik. Ariyesti menyampaikan maaf terbuka kepada tamu, PHRI, Disparbud, Wali Kota, dan pihak terkait lainnya. Ia juga menyatakan akan bertemu langsung dengan tamu bernama Rama Sahid.

PHRI Pekalongan turut turun tangan. Mereka menyatakan bahwa tuntutan biaya tambahan tidak berdasar, sebab harga aplikasi sejatinya final. PHRI mendorong agar masalah diselesaikan melalui mediasi dan bukan melibatkan tamu langsung.

Kebijakan Baru untuk Mencegah Ulang Kesalahan

Tak berdiam diri, hotel memperbarui kebijakannya. Kini, jika tarif dari aplikasi lebih rendah daripada standar internal, hotel tak lagi meneruskan biaya ke tamu. Sebaliknya, mereka mengejar penyelesaiannya dengan agen atau platform aplikasi (seperti RedDoorz). Ariyesti yakin kebijakan baru ini bakal mencegah insiden serupa.

Selain itu, hotel mulai fokus memperbaiki layanan front office dan komunikasi antar sistem reservasi untuk meredam ketidaksesuaian informasi harga.

Baca Juga : Pesta Pernikahan Palsu Jadi Tren Baru Para Gen Z, Raup Cuan Sampai Triliunan

3 tanggapan untuk “Usai Dibintang 1 di Google, Hotel Viral di Pekalongan Ngaku Banyak yang Pesan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *