Tren Pernikahan Tanpa Pasangan: “Fake Wedding” Booming!
Gen Z kini menciptakan tren baru: pesta pernikahan palsu. Mereka menyelenggarakan acara sekelas pesta pernikahan—dengan musik Bollywood, dekor meriah, bahkan prosesi pura‑pura—tanpa kehadiran pengantin sama sekali. Event organizer memanfaatkan tren ini dengan menyajikan malam hiburan ticketed berbayar. Muncul pernyataan bahwa tren ini sudah berkembang pesat di kota-kota besar India, bahkan merambah Dubai dan kampus seperti Cornell di Amerika Serikat.

Kenapa Gen Z Antusias?
Gen Z menyukai tren ini karena memberi suasana pesta maksimal tanpa drama keluarga, komitmen, atau tekanan tradisi. Mereka datang hanya untuk menikmati musik, makanan, dan suasana glamor—semuanya tanpa beban. Tiket terjangkau mulai dari ₹1.500 hingga ₹15.000 atau lebih. Mereka datang untuk vibe, bukan kewajiban.
Bisnis Fake Weddings: Cuan Menggiurkan
Event organizer mampu memonetisasi kembali musim sepi venue pesta pernikahan. Bahkan, satu event di Delhi dengan biaya ₹10 lakh berhasil meraup untung serupa. Itu hanya satu malam; bayangkan jika diterapkan secara masif di beberapa kota. Tren ini menyuntikkan suplai di pasar wedding yang bernilai sekitar US $130 miliar—nilai pasar yang sangat besar dan sangat potensial untuk dieksploitasi.
International Vibe: Dari India ke Dunia
Bukan hanya di India. Dubai sudah menyaksikan pesta ‘fake wedding’ dengan DJ, dhol, dan kompetisi dance antara “tim mempelai”. Mahasiswa di Cornell menggelar event tematik lengkap dengan haldi, mehndi, dan mock pheras. Tren itu berkembang secara global, menyatukan budaya pesta pernikahan dengan gaya Gen Z: fun, bebas, dan Instagrammable.
“Vibe Over Vows” — Filosofi Gen Z
Mereka memilih experience ketimbang ritual. Mereka membuat acara jadi soal kebebasan menari, berpakaian etnik, dan berbagi konten keren tanpa diwajibkan keluarga atau adat kuno. Media sosial jadi lapak utama untuk membagikan momen itu, dengan hashtag seperti #ShaadiForTheVibe dan #NotActuallyMarried
Gen Z Redefinisi Pernikahan
Lebih dari sekadar ‘fake weddings’, Gen Z juga meredefinisi konsep pesta pernikahan secara umum. Refleksi: Tradisi Bertemu Tren Digital
Fake weddings mencerminkan pergeseran budaya di era digital. Generasi muda mengubah tradisi menjadi konten. Mereka mengutamakan aesthetic, kenyamanan, dan value personal—semuanya dalam satu paket pesta. Event semacam ini juga menawarkan peluang finansial besar dalam ekonomi pesta global yang raksasa.
Penutup: Evolusi Gaya Merayakan
Kini, pesta pernikahan bukan sekadar akad atau janji. Bagi Gen Z, ia menjadi alasan berpesta, berkreasi, dan berbagi vibe digital. Fake weddings jadi bukti bahwa budaya bisa dikreasikan ulang dengan cara yang lebih fun, murah, dan sosial-media-ready. Acara yang awalnya serius tapi kini kembali jadi hiburan—kini dibayar dan direkam untuk generasi yang hidup di layar.
Baca Juga : Viral! Dua Remaja Terekam Curi Besi Penutup Saluran Air di Matraman, Polisi Bergerak Cepat
https://shorturl.fm/a8bdY
https://shorturl.fm/7cAAu
https://shorturl.fm/L1IiB
https://shorturl.fm/tIHLT